Wallenberg Syndrome: Apa yang Harus Dilakukan?

Wallenberg Syndrome: Apa yang Harus Dilakukan?

Sindrom Wallenberg, atau yang disebut juga lateral medullary syndrome, merupakan suatu gangguan neurologis yang disebabkan oleh penyumbatan atau aterotrombosis pada arteri vertebralis atau arteri cerebelli inferior posterior yang terdapat di daerah batang otak. Hal tersebut menyebabkan terjadinya gejala seperti kesulitan menelan, vertigo, pusing, kesulitan berjalan, sindrom Horner (konstriksi pupil dan kelopak mata menutup), mual muntah, disfagia, nystagmus (gerakan bola mata yang cepat secara involunter), dan sebagainya. Pasien dapat pula mengalami nyeri atau defisit sensoris di sisi ipsilateral pada wajah dan kontralateral pada lengan dan kaki. Gejala yang terjadi bergantung pada area batang otak dan nukleus yang terkena dampak stroke tersebut.

Sumber: https://www.medicalnewstoday.com/articles/322942.php

Pasien yang dicurigai mengalami sindrom Wallenberg harus segera mendapatkan penanganan. Diagnosis banding harus segera disingkirkan dan adanya kontraindikasi terhadap terapi stroke tertentu juga perlu diperhatikan. Sama seperti prinsip penanganan stroke lainnya, slogan “time is brain” sangatlah esensial dalam penanganan sindrom Wallenberg. Langkah terapi ditujukan untuk mengurangi ukuran infark dan mencegah komplikasi lain untuk mengoptimalkan kondisi akhir pasien. Tata laksana sindrom Wallenberg bergantung pada penyebabnya dan juga seberapa cepat gangguan tersebut teridentifikasi.

Tata laksana sindrom Wallenberg

Pasien yang memenuhi kriteria dan tiba dalam rentang 3 hingga 4,5 jam dapat diberikan trombolisis intravena (IV). Secara umum, penelitian menunjukkan bahwa pemberian trombolisis IV dapat meningkatkan perbaikan hasil pasien stroke hingga sekitar 30%. Pada kasus ekstrem, yaitu keadaan penyumbatan yang besar, tindakan operasi mungkin diperlukan, meskipun jarang sekali dianjurkan karena akses area stroke pada sindrom ini cukup sulit. Selanjutnya, mereka perlu dipantau di ICU atau stroke unit khusus selama 24 jam pasca trombolisis. Pemberian infus cairan hipotonik perlu dihindari untuk mencegah terjadinya edema otak. Selain itu, tekanan darah juga perlu dipantau secara khusus.

Tata laksana sindrom Wallenberg selanjutnya dilakukan sesuai gejala dan melibatkan tindakan rehabilitasi untuk melatih kemampuan pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Pada kondisi stroke parah yang mengganggu fungsi menelan, sebuah selang makanan perlu dipasang agar pasien dapat tetap makan. Terapi wicara dan menelan dapat dilakukan pasien untuk memperbaiki fungsi. Stimulasi magnetik transkranial repetitif menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk dipakai dalam rehabilitasi disfagia pada pasien sindrom Wallenberg. Selain itu, mereka juga dapat diresepkan obat-obatan untuk menangani nyeri kronik. Beberapa studi menemukan bahwa obat anti-epilepsi gabapentin cukup efektif untuk mengurangi nyeri kronik tersebut.

Terapi dan rehabilitasi fisik ditujukan untuk membantu mengatasi masalah keseimbangan, koordinasi, dan gerakan yang muncul akibat penyakit tersebut. Terapi yang dilakukan dapat berupa latihan motorik dan adaptasi untuk meningkatkan kemampuan fungsional pasien. Stimulasi elektrik juga ternyata dapat turut membantu memperbaiki kekuatan otot dan keseimbangan pada pasien pasca stroke. Prinsipnya, langkah tata laksana dan terapi rehabilitasi harus dilakukan sesegera mungkin untuk mencapai hasil yang optimal.

Selain terapi dan rehabilitasi, pasien juga perlu diingatkan tentang pentingnya mencegah stroke berulang. Caranya? Hal ini dilakukan dengan menghindari faktor-faktor risiko stroke, misalnya dengan berhenti merokok, mengontrol gula darah dan tekanan darah, serta menerapkan pola hidup dan diet yang sehat. Pendekatan holistik tersebut ternyata terbukti efektif dalam menekan risiko stroke lanjutan hingga 80%.

Referensi

  1. Lui F, Tadi P, Anilkumar A. Wallenberg Syndrome [Internet]. Ncbi.nlm.nih.gov. 2019 [cited 28 August 2019]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470174/
  2. Wallenberg Syndrome [Internet]. Physiopedia. 2019 [cited 28 August 2019]. Available from: https://www.physio-pedia.com/Wallenberg_Syndrome
  3. Wallenberg syndrome | Genetic and Rare Diseases Information Center (GARD) – an NCATS Program [Internet]. Rarediseases.info.nih.gov. 2019 [cited 28 August 2019]. Available from: https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/9263/wallenberg-syndrome
  4. Wallenberg’s Syndrome Information Page | National Institute of Neurological Disorders and Stroke [Internet]. Ninds.nih.gov. 2019 [cited 28 August 2019]. Available from: https://www.ninds.nih.gov/disorders/all-disorders/wallenbergs-syndrome-information-page

Leave a Reply

Close Menu