Tethered Cord Syndrome (TCS): Apa Itu?

Tethered Cord Syndrome (TCS): Apa Itu?

tethered cord syndrome
Ilustrasi Tethered Cord Syndrome
Gambar diambil dari:
https://www.earth.com/news/spinal-cord-control-motor-functions/

Tethered cord syndrome (TCS) merupakan spektrum kelainan neurologis yang disebaban karena pelekatan jaringan yang membatasi gerakan tulang belakang. Pelekatan jaringan tersebut dapat terjadi secara kongenital (bawaan dari lahir) ataupun pasca-trauma, dan umumnya dapat memburuk seiring berjalannya waktu. Pada anak-anak, TCS seringkali disebabkan oleh gangguan pertumbuhan tabung saraf (neural tube) saat perkembangan janin–seringkali menyebabkan spina bifida. Kondisi ini dapat berlangsung tanpa diketahui hingga dewasa, ketika permasalahan nyeri, sensorik, dan motorik muncul. Pada orang dewasa, TCS dapat terjadi karena trauma pada tulang belakang dan jaringan luka, sehingga menghambat aliran cairan melalui tulang belakang. Tekanan pada cairan tersebut dapat memicu tumbuhnya kista pada tulang belakang–disebut dengan syringomyelia, yang menyebabkan kelumpuhan dan rasa sakit yang parah.

Bagaimana cara mengatasi tethered cord syndrome?

Tethered cord syndrome (TCS) dapat disembuhkan melalui operasi (untethering). Operasi tersebut biasanya hanya dilakukan jika terdapat gejala atau tanda klinis pada pasien yang menyebabkan gangguan beraktivitas sehari-hari. Sebelum operasi dimulai, pasien dibius dengan anestesi umum, diintubasi untuk membuka saluran napas, dipasangkan kateter urin dan elektroda monitor elektrofisiologi neural untuk merekam aktivitas saraf. Setelah itu, laminektomi (pembukaan lapisan pembungkus struktur dengan sayatan) diikuti dengan pemotongan filum, jaringan serat, dan lesi yang menyebabkan peregangan tulang belakang akan dilakukan.

Pemotongan filum, jaringan serta, dan lesi struktur dilakukan menggunakan cauter untuk mencegah rupturnya pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan post-operatif pada kantung dural (selaput pembungkus tulang belakang)–seringkali menyebabkan komplikasi neurologis lainnya. Sejumlah kecil dari filum akan diambil untuk diperiksa asal patologinya, apakah filum lemak, lipoma, atau ependimoma. Selain operasi konvensional, TCS dapat disembuhkan dengan teknik operasi yang minimal invasif, yaitu dengan menggunakan endoskopi. Teknik ini diklaim lebih aman dari komplikasi, kerusakan saraf, maupun infeksi; selain juga mempersingkat lama inap pasien dan menurunkan rasa sakit.

Operasi terbuka dan endoskopik dinilai masih membawa risiko tinggi terhadap kerusakan sumsum tulang belakang, pelekatan kembali, dan komplikasi pada cairan tulang belakang. Baru-baru ini, teknik pembedahan spine-shortening osteotomy diciptakan sebagai teknik alternatif untuk mencegah risiko dan komplikasi neurologis tersebut. Pada teknik ini, tulang belakang akan diperpendek (15-25 mm) untuk mengurangi tegangan longitudinal tanpa merusak selaput dural pada tulang belakang. Prosedur ini dinilai lebih aman dan efektif, terutama untuk pasien dengan kasus malformasi yang kompleks.

Leave a Reply

Close Menu