Tangan Mati Rasa? Kenali Brachial Plexus Injury
Brachial plexus injury. Gambar diambil dari: http://www.sportsandspinal.ie/conditions/shoulder-conditions/

Tangan Mati Rasa? Kenali Brachial Plexus Injury

brachial plexus injury
Brachial plexus injury. Gambar diambil dari: http://www.sportsandspinal.ie/conditions/shoulder-conditions/

Apakah Anda merasakan sakit terus-menerus di bahu Anda? Atau, apakah Anda pernah melihat bayi yang tidak bisa menggerakan tangannya? Bisa jadi, hal tersebut adalah kondisi kelainan brachial plexus injury. Apa itu? Mari kita diskusikan di bawah ini.

Brachial Plexus Injury

Brachial plexus injury, seperti namanya, adalah kerusakan pada pleksus brakhialis. Pleksus brakhialis merupakan kumpulan saraf yang berfungsi untuk menggerakan lengan, dan merupakan bagian dari sistem saraf tepi. Pleksus ini terdiri dari 4 saraf tulang belakang ruas servikal (C5-C8) dan 1 ruas torakal (T1). Saraf tersebut “berbelit” dan menyebar untuk mempersarafi seluruh bagian lengan. Secara garis besar, pleksus brakhialis terdiri dari 3 cabang utama: (1) lateral, bagian luar, bercabang lagi menjadi saraf muskulokutaneus dan saraf median; (2) medial, bagian dalam, bercabang lagi menjadi saraf median dan saraf ulnar; dan (3) posterior, bagian belakang, bercabang lagi menjadi saraf aksillar dan saraf radial. Saraf musklokutaneus secara harafiah mempersarafi otot-otot dan kulit pada lengan atas. Sementara itu, saraf median dan ulnar secara berurutan mempersarafi telapak tangan bagian dalam dan luar. Saraf radialis, di lain pihak, mempersarafi punggung tangan. Saraf aksillaris mempersarafi aksilla–atau ketiak.

Ketika terjadi kerusakan pada pleksus ini, sinyal yang dihantarkan oleh otak ke lengan akan terhambat, sehingga lengan dapat kehilangan fungsi sensorik, dimana lengan tidak dapat merasakan apa-apa, dan motorik, dimana lengan tidak dapat bergerak. Kelainan tidak hanya dapat terjadi pada pleksus saja, melainkan dapat pula pada saraf-saraf cabangnya. Misalnya, kerusakan saraf muskulokutaneus akan menyulitkan menekuk lengan, saraf median akan menyebabkan sakit pada lengan bawah, dan saraf ulnar menyebabkan mati rasa pada jari-jari dan kelemahan menggenggam. Secara umum, gejala utama pada brachial plexus injury adalah: (1) kelemahan pada lengan, (2) berkurang/hilangnya refleks lengan, dan (3) mati rasa pada lengan.

Apa penyebabnya?

Secara garis besar, penyebab brachial plexus injury dapat dibedakan menjadi 2, yaitu traumatik dan obstetrik. Kelainan secara traumatik biasanya terjadi setelah kecelakaan, kanker, inflamasi, ataupun trauma lainnya; sementara itu, kelainan obstetrik terjadi pada saat bayi masih berada di dalam kandungan.

Kelainan akibat trauma seringkali terjadi karena pemanasan berlebihan yang menyebabkan “tertariknya” saraf, sehingga menyebabkan saraf tersebut robek. Selain itu, hal tersebut juga dapat terjadi karena luka tusuk, tembak, tabrakan, ataupun jatuh dari ketinggian. Meskipun kelainan ini dapat terjadi kapanpun, pada kebanyakan kasus, brachial plexus injury terjadi saat bayi baru lahir. Pada proses kelahiran, bayi yang berada di dalam rahim harus keluar melalui celah yang sempit, dan dapat menyebabkan kerusakan pada bahu bayi–menyebabkan tertarik/robeknya pleksus brakhialis. Hal ini disebut distosia bahu pada proses kelahiran yang sulit. Kasus ini seringkali terjadi pada proses kelahiran alami, atau per vaginam. Namun, bukan berarti operasi Caesar menghilangkan risiko bayi mengalami kejadian ini.

Apa pilihan terapi yang tersedia?

Pada beberapa kasus, brachial plexus injury akan sembuh dengan sendirinya–umumnya 6 bulan pada bayi. Namun, apabila perbaikan tidak tampak, maka pengobatan seperti rehabilitasi, pemasangan fiksator, hingga operasi harus dilakukan. Rehabilitasi yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan latihan menekuk lengan, menggerakan pergelangan tangan, hingga meluruskan jari-jari. Sementara itu, terapi fisik dan okupasional juga harus dilakukan untuk mencegah otot-otot menyusut, salah satunya adalah dengan stimulasi elektrik dan pemanasan. Ketika semua terapi sudah dicoba namun gagal, operasi menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia.

Referensi

  1. Thatte MR, Mehta R. Obstetric brachial plexus injury. Indian J Plast Surg. 2011;44(3):380-9 [PMC]
  2. Luo DT, Li Z. Brachial plexus injuries. In: StatPearls. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2019 Jan-. [NCBI]

Leave a Reply

Close Menu