Memperbaiki Tulang Belakang Terbelah pada Spina Bifida

Operasi spina bifida harus dilakukan segera terutama pada kondisi spinda bifida aperta/terbuka karena risiko infeksi yang dapat terjadi cukup tinggi. Penutupan spina bifida beberapa hari setelah lahir sangat bermanfaat untuk hal ini. Selain itu, komplikasi yang sering muncul pada pasien spina bifida adalah hidrosefalus. Oleh karena itu, prosedur pembedahan spina bifida seringkali dilakukan bersamaan dengan prosedur operasi hidrosefalus untuk membuat sebuah shunt untuk aliran cairan serebrospinal. Berikut adalah beberapa tata laksana untuk spina bifida.

1. Pembedahan
Spina bifida dapat didiagnosis bahkan sejak di dalam kandungan. Hal ini juga memungkinkan dilakukannya pembedahan prenatal untuk memperbaiki prognosis pasien. Prosedur ini dilakukan dengan membuka uterus dan memperbaiki spinal cord fetus. Prosedur ini biasanya dilakukan pada minggu ke 19-25 kehamilan.

Selain pembedahan, persalinan secara section cesaria juga dipercaya lebih aman untuk pasien dengan spina bifida. Hal ini karena spinal cord yang terekspos dunia luar diangap lebih aman dari infeksi melalui teknik section cesaria. Namun, beberapa penelitian mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara prognosis spina bifida melalui persalinan per vaginam atau section cesaria.

Pembedahan seringkali dilakukan beberapa kali seumur hidup pasien. Hal ini karena dalam pertumbuhan dan perkembangan pasien, defisit neurologis yang sebelumnya tidak muncul bisa muncul saat dewasa. Prosedur pembedahan juga dilakukan berdasarkan indikasi dan malformasi yang terjadi pada pasien. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan, terutama pada pasien spina bifida tipe myelomeningocele adalah dekompresi. Hal ini dilakukan pada pasien dengan malformasi Chiari II dimana bagian cerebellum terdorong ke pembukaan bagian basis cranii. Dekompresi dilakukan setelah dilakukan duraplasti untuk memperlebar kantong dural servikal.

2. Terapi Fisik dan Okupasi
Terapi fisik dilakukan berdasarkan kondisi klinis pasien. Pasien dengan paralisis parsial dapat diberikan braces dan pasien dengan masalah pembelajaran dapat diterapi dengan computer dan perangkat lunak khusus. Selain itu, terapi fisik juga dilakukan bagi kondisi seperti inkontinensia urin dan inkontinensia usus.

Pasien dengan inkontinensia urine memiliki beberapa alternatif pilihan terapi: kateter, pemberian obat antikolinergik, injeksi botoks, dan pemasangan sfingter urin buatan. Pada kateterisasi, perawat atau keluarga pasien diedukasi untuk memasang kateter dan membuang urin secara intermiten. Sedangkan, pemberian obat antikolinergik dapat menghambat kontraksi otot kantong kemih sehingga kapasitas penyimpanannya lebih banyak sehingga pasien tidak perlu sering berkemih. 

Pada pasien dengan hyper-reflexic bladder, dimana kantong kemihnya terlalu sering dan kuat berkontraksi, dokter biasa melakukan injkesi toksin botulinum yang dapat melemahkan kontraksi tersebut.Pemasangan otot sfingter buatan juga menjadi alternative pilihan bagi pasien. Saat pasien merasakan ingin berkemih, pasien dapat memencet balon yang nantinya dipasang agar bisa menahan untuk berkemih. Namun, prosedur ini hanya dapat dilakukan pada pasien yang telah mengalami pubertas.

Pasien dengan spina bifida juga seringkali mengeluhkan inkontinensia ani (ketidakmampuan anus mengontrol pengeluaran feses). Hal ini dapat diatasi dengan pemberian serat yang terukur, pemasangan anal plug, pemberian enema, dan kolostomi. Pemberian serat makanan yang cukup (tida kurang dan tidak lebih) dapat mencegah pasien dari mengalami konstipasi maupun diare. Sedangkan, pemasangan anal plug dapat dilakukan untu menahan pengeluaran feses secara tiba-tiba. Hal ini dilakukan dengan pemasangan busa ke dalam anus yang akan mengembang oleh adanya feses dan cairan sehingga dapat menahan pengeluarannya. Pemberian enema juga dapat dilakukan terutama bagi pasien anak yang tidak berrespons terhadap penangan. Hal ini bermanfaat karena dapat membersihkan usus selama 2-3 hari.Prosedur kolostomi juga dapat dilakukan dengan memotong kolon dan menyambungkan sebuah kantong dengan ileum untuk menampung feses.

Referensi:

  1. Spina Bifida Fact Sheet [internet]. MD: NINDH; June 2013. Available from https://www.ninds.nih.gov/disorders/patient-caregiver-education/fact-sheets/spina-bifida-fact-sheet.
  2. Symptoms: Spina Bifida [internet]. UK: NHS; May 2017. Available from https://www.nhs.uk/conditions/spina-bifida/symptoms/.
  3. Phillips LA, Burton JM, Evan SH. Spina Bifida Management. 2017;47(7):173-7.

Leave a Reply

Close Menu