Pasca-Operasi, Apakah Perjalanan Sudah Selesai?
Ilustrasi Pasien Pasca-Operasi. Gambar diambil dari: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Blood_test_(1).jpg

Pasca-Operasi, Apakah Perjalanan Sudah Selesai?

Bagi kebanyakan pasien, operasi bagaikan tembok yang menjulang tinggi, yang membatasi kehidupan sekarang dengan nanti. Namun, mereka tidak sadar, bahwa di balik tembok operasi, masih terdapat tembok lain yang menanti–yaitu tembok pasca-operasi

pasien pasca-operasi
Ilustrasi Pasien Pasca-Operasi. Sumber: Wikimedia

Pasti Anda pernah mendengar yang namanya “operasi”. Jika Anda dihadapkan pada suatu masalah kesehatan, dan harus dioperasi, apa yang pertama kali muncul di benak Anda? Bagi beberapa orang, mungkin operasi adalah hal yang wajar dan merupakan sebuah proses dalam kehidupan. Namun, bagi lainnya, operasi mungkin adalah sesuatu yang menakutkan, seperti mendekatkan diri dengan malaikat pencabut nyawa.

Tahukah Anda, bahwa ternyata operasi hanyalah sebagian kecil dari proses penyembuhan? Pada kebanyakan kasus, operasi hanya memakan waktu beberapa jam saja. Sebaliknya, proses penyembuhan pasca-operasi dapat memakan banyak waktu, mulai dari hitungan minggu, bulan, hingga tahun. Selama proses panjang tersebut, tentu terdapat berbagai rintangan dan hambatan, salah satunya adalah komplikasi pasca-operasi. Bayangkan saja, di tubuh Anda yang menjadi rumah bagi jutaan bakteri, terdapat pintu yang membolehkan bakteri tersebut masuk–bekas luka operasi. Tentu saja, para tenaga medis bekerja semaksimal mungkin untuk mencegah infeksi. Namun, terkadang, infeksi masih dapat terjadi. Seberapa bahayakah infeksi pasca-operasi pada sistem saraf pusat?

Infeksi Sistem Saraf Pusat Pasca-Operasi

Umumnya, bakteri-bakteri penyebab infeksi sistem saraf pusat berkloni di pleksus choroideus–reservoir bagi cairan serebrospianl. Jumlah bakteri minimum yang dibutuhkan untuk menyebabkan gejala klinis infeksi adalah 100.000 bakteri/gram jaringan. Komplikasi infeksi pasca-operasi seringkali berupa meningitis, abses pada epidural, subdural, ataupun pada jaringan otak itu sendiri. Seberapa seringkah infeksi sistem saraf pusat pasca-operasi?

Kabar baik untuk Anda semua, sebuah studi yang melibatkan 2.111 kasus operasi saraf menyebutkan bahwa infeksi sistem saraf pusat pasca-operasi hanya terjadi pada 0,8% kasus. Singkatnya, hanya 8 dari 1000 orang yang menjalani operasi saraf terkena penyakit ini. Jika ditinjau lebih lanjut berdasarkan prosedur operasi, biopsi jaringan tumor pada sumsum tulang belakang menjadi penyumbang kasus terbanyak dengan tingkat kejadian hingga 5,3%, dilanjutkan dengan operasi perbaikan pada pasien hidrosefalus–kondisi dimana kepala lunak karena berisi terlalu banyak air, dan operasi kraniotomi (pembukaan tempurung kepala) untuk mengangkat tumor/massa pada otak.

Apa penyebab infeksi sistem saraf pusat pasca-operasi?

Berdasarkan studi tersebut, Staphylococcus aureus merupakan organisme penyebab infeksi terbanyak (50% kasus). Bakteri ini seringkali menginfeksi pasien setelah operasi kraniotomi, dan seringkali menyebabkan abses/terkumpulnya nanah pada jaringan. Parahnya, bakteri ini adalah flora normal (re: “penghuni tetap”) tubuh manusia yang umumnya tinggal di kulit dan membran mukosa manusia, dan paling banyak ditemukan di rongga hidung.

Mengikuti S. aureus, Proprionibacterium acne merupakan penyebab terbanyak kedua (25% kasus). Ya, sesuai namanya, bakteri ini merupakan bakteri penyebab jerawat. Bayangkan saja, bakteri yang seringkali menyebabkan jerawat di muka Anda dapat masuk melalui bekas luka operasi dan menyebabkan infeksi di kepala Anda. Untungnya, kasus tersebut jarang terjadi, dan umumnya hanya terjadi pada pasien dengan sistem imun yang lemah.

Apa opsi terapi yang tersedia?

Seperti penyakit infeksi pada umumnya, pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik, cairan infus, anti-kejang, dan steroid untuk mengurangi pembengkakan otak. Pada kasus infeksi akibat virus, infeksi dapat membaik tanpa obat anti-viral, hanya dengan terapi simtomatik (re: pengobatan gejala) dan suportif saja. Apabila terjadi abses, maka drainase pus harus dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah perburukan kondiri lebih lagi. Drainase dapat dilakukan melalui prosedur pembedahan dengan panduan gambaran radiologis (re: CT-scan).

Infeksi sistem saraf pusat pasca-operasi memang membahayakan, dengan komplikasi yang mematikan. Namun, hal tersebut dapat dicegah dengan pola hidup bersih dan sehat dan rutin berobat ke dokter

Referensi

  1. Dorsett M, Liang SY. Diagnosis and treatment of central nervous system infections in the emergency department. Emerg Med Clin North Am. 2016 Nov;34(4):917-42 [PMC]
  2. McClelland S 3rd, Hall WA. Postoperative central nervous system infection: incidence and associated factors in 2111 neurosurgical procedures. Clin Infect Dis. 2007 Jul 1;45(1):55-9 [PubMed]
  3. Nisbet M, Briggs S, Ellis-Pegler R, Thomas M, Holland D. Propionibacterium acnes: an under-appreciated cause of post-neurosurgical infection. J Antimicrob Chemother. 2007 Nov;60(5):1097-103 [PubMed]
  4. Chidambaram S, Nair MN, Krishnan SS, Cai L, Gu W, Vasudevan MC. Postoperative central nervous system infection after neurosurgery in a modernized, resource-limited tertiary neurosurgical center in South Asia. World Neurosurg. 2015 Dec;84(6):1668-73 [PubMed]
  5. Taylor TA, Unakal CG. Staphylococcus aureus. In: StatPearls. Treasure Island: StatPearls Publishing; 2019 Jan- [NCBI Books]

Leave a Reply

Close Menu