Operasi Mengatasi TB Spinal: Kapan dan Bagaimana?

Meskipun kasus spondylitis TB (TB spinal atau tulang belakang) terbilang jarang dan hanya terjadi pada  1-3% dari seluruh kasus TB, kejadiannya cukup sering ditemui di negara berkembang. Bahkan, sebanyak 40% kasus infeksi tulang belakang merupakan kasus TB spinal. Pengobatan TB spinal khususnya operasi menjadi rumit mengingat banyak hal yang harus dipertimbangkan. Salah satu tantangannya adalah kasus TB spinal sulit untuk dideteksi dan biasanya terdeteksi dalam tingkat lanjut (kondisi sudah cukup parah). Keterlambatan diagnosis dan tentunya pengobatan akan mengakibatkan banyak komplikasi seperti kelemahan tungkai, deformitas Gibus pada tulang punggung, nyeri, masa, dan kifosis (bungkuk). Namun, perkembangan teknologi radiologi terutama MRI memudahkan diagnosis dilakukan leih awal sebelum deficit neurologis mulai muncul.

Masalahnya, pengobatan TB spinal menjadi sulit karena sedikitnya panduan dengan hasil optimal. Selain konsumsi obat anti TB (OAT) dengan regimen tertentu selama 9-18 bulan – bahkan OAT hanya diberikan pada pasien stabil, tanpa deficit/gangguan neurologis, dan tentunya belum resisten –, umumnya (dan secara historis) TB spinal diobati secara konservatif dengan pemberian penyangga tulang belakang (orotosis thoracolumbusacral) untuk imobilisasi dan mencegah terjadinya deformitas lebih lanjut akibat tekanan beban tubuh. Metode ini juga dikombinasikan dengan diet penurunan berat badan. Pemberian obat anti nyeri juga dilakukan terutama pada kasus parah.

Indikasi Operasi TB Spinal

Sekarang, kapan operasi menjadi pilihan untuk mengatasi TB spinal? Indikasi operasi adalah jika ada deficit neurologis, abses sekitar vertebra, instabilitas spina karena fusi ruas-ruas vertebra – anterior (sisi depan), posterior (sisi belakang), atau gabungan – kifosis (terutama jika kifosis lebih dari 50-60 derajat), resisten OAT, nyeri kronik dan sebagai pencegahan komplikasi seperti kelumpuhan anggota gerak bawah (paraplegia). Penundaan operasi akan menyebabkan banyak masalah mulai dari perburukan kifosis, gangguan pernapasan, dan paraplegia.

Prosedur Operasi TB Spinal

Beberapa teknik operasi telah diperkenalkan untuk mengatasi TB spinal. Teknik mula-mula adalah aspirasi (pengambilan cairan menggunakan suntik) abses dan menyingkirkan luka melalui sisi posterior. Pada 1895, teknik anterolateral esktrapleura dikembangkan oleh Menard. Teknik ini meliputi debridemen (pengangkatan) jaringan terinfeksi, dekompresi mekanik segmen spina terinfeksi, dan grafting tulang (penambalan) terutama untuk fusi spina anterior. Teknik Menard yang dimodifikasi efektif untuk mengatasi lesi di bagian dorsal (punggung). Perkembangan teknik operasi terus dilakukan. Albee dan Hibbs mengembangkan teknik fusi spina posterior, Alexander mengembangkan teknik dekompresi lateral untuk menjaga stabilitas tulang belakang. Satu hal yang pasti, keberhasilan pengobatan tetap ditentukan gabungan antara terapi obat-obatan dan operasi 9jika diinikasikan).

Secara umum teknik operasi TB spinal terbagi menjadi empat:

  1. Dekompresi posterior dan fusi dengan graf tulang
  2. Debridement/dekompresi anterior dan fusi dengan graf tulang
  3. Debridemen/dekompresi anterior dan fusi dilanjutkan fusi posterior bertahap
  4. Fusi posterior dilanjutkan debridemen/dekompresi anterior dan fusi
TB spinal prosedur anterior
Gambar 1. Gambaran radiologi sebelum (a-d) dan pasca operasi (e-f) menggunakan pendekatan anterior, setelah 12 bulan terlihat penyatuan kembali segmen vertebra (g-h); sumber:http://www.ijoonline.com/article.asp?issn=0019-5413;year=2012;volume=46;issue=2;spage=165;epage=170;aulast=Garg
TB spinal prosedur posterior
Gambar 2. Gambaran radiologi sebelum (a-e) dan pasca operasi (g-h) menggunakan pendekatan posterior, fiksasi pedikular dilakukan pada kasus ini (f), setelah 9 bulan terlihat pnyatuan kebali segmen vertebra (I-j); sumber:http://www.ijoonline.com/article.asp?issn=0019-5413;year=2012;volume=46;issue=2;spage=165;epage=170;aulast=Garg

Keempat teknik ini bisanya menggunakan pendekatan posterolateral atau transpedikular. Konsumsi OAT selama 18 bulan dan imobilisasi selama 3 bulan diperlukan untuk hasil optimal. Selain itu fiksasi pedikel juga dianjurkan. Bila fasilitas kesehatan tidak memiliki peralatan untuk melakukan prosedur seara posterolateral atau transpedikular, prosedur anterolateral menjadi pilihan. Apa lagi prosedur secara anterolateral memberikan akses untuk melakukan dekompresi, graf tulang, debridemen anterior, implant posterior, dan perbaikan kifosis. Namun, prosedur anterolateral pada pasien dengan penyakit aktif dapat menimbulkan komplikasi. Perkembangan teknologi menyediakan pilihan operasi non invasive menggunakan endoskopi seperti teknik debridemen endoskopik posterolateral.

Hal yang perlu diingat adalah setiap pasien berbeda. Oleh sebab itu, selalu pertimbangkan hal-hal berikut saat akan melakukan prosedur operasi karena selain tipe TB spinal yang diderita, kondisi pasien menentukan teknik apa yang akan digunakan. Hal-hal tersebut antara lain.

  1. Usia
  2. Penyakit penyerta/komorbid
  3. Lokasi kerusakan vertebra (anterior, posterior, atau gabungan)
  4. Lokasi kompresi (anterior, posterior, atau gabungan)
  5. Kepadatan lesi kompresi
  6. Kondisi tulang pasien/stok tulang (hal ini harus dipertimbangkan jika pasien memerlukan graf tulang karena diperlukan pengambilan bagian tulang lain sebagai penambal)
  7. Segemen vertebra yang terdampak
  8. Derajat deformitas kifosis
  9. Lokasi/region vertebra (leher/servikal, punggung/thoracal, pinggang/lumbal, atau persambungan)

Sekali lagi keberhasilan tatalaksana TB spinal ditentukan oleh banyak faktor. Pemberian OAT dengan tepat sebelum dan setelah operasi diikuti dengan konsumsi yang teratur (kepatuhan pasien yang baik), debridemen jaringan secara tepat untuk menyingkirkan focus infeksi, rekonstruksi stabilitas tulang belakang, dan tentunya perbaikan status gizi dan imunitas memegang peran sentral keberhasilan pengobatan TB spinal.

Referensi:

  1. Rasouli MR, Mirkoohi M, Vaccarp AR, Yarandi KK, Rahimi-Movagar V. Spinal tuberculosis: diagnosis and management. Asian Spine Journal. 2012; 6(4): 294-308. Available from: https://www.asianspinejournal.org/upload/pdf/asj-6-294.pdf
  2. Meena S, Mittal S, Chowdhary B. Spinal tuberculosis: which is the best surgical approach? Med Princ Pract. 2014; 23: 96-7. Available from: https://www.karger.com/Article/FullText/353146
  3. Alam MD, Phan K, Karim R, Jonayed SA, Munir HK, Chakraborty S, et al. Surgery for spinal tuberculosis: a multi-center experience of 582 cases. J spine Surg. 2015 Dec; 1(1): 65-71. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5039863/

Leave a Reply

Close Menu