Nyeri Pinggang? Awas! Waspadai Saraf Kejepit

saraf kejepit
Ilustrasi saraf kejepit (hernia nucleus pulposus). Gambar diambil dari: https://www.medicalnewstoday.com/articles/324961.php

Pernahkah Anda bangun dengan rasa nyeri yang hebat di punggung Anda? Atau, pernahkah Anda merasakan nyeri setelah membungkuk, mengangkat barang berat, atau jatuh? Awas! Itu bisa merupakan gejala dari hernia nucleus pulposus, atau yang lebih sering dikenal dengan saraf kejepit.

Hernia Nucleus Pulposus (Saraf Kejepit)

Secara umum, hernia adalah istilah medis yang menggambarkan kondisi dimana sebuah organ, jaringan, ataupun bagian tubuh lainnya yang tidak berada di lokasi yang seharusnya. Lalu, apa itu nucleus pulposus? Struktur tersebut berada di tulang belakang kita. Seperti yang kita ketahui, tulang belakang kita terdiri dari 33 ruas, dan masing-masing ruas diselingi oleh bantalan. Bantalan tersebut berfungsi untuk meredam gesekan dan tekanan untuk membantu kita mengangkat beban atau mempertahankan postur tubuh. Bantalan tersebut-lah yang disebut dengan nucleus pulposus. Jadi, saraf kejepit adalah keadaan dimana bantalan tersebut pecah, dan menghimpit saraf yang berada di belakangnya.

Umumnya, keluhan para pasien dengan saraf kejepit adalah nyeri pada leher, pinggang, ataupun punggung. Nyeri tersebut dapat bervariasi, mulai dari hanya rasa tidak enak, rasa sakit parah, hingga tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang langsung mengunjungi dokter untuk pengobatan. Tahukah Anda, bahwa 9 dari 10 pasien dengan saraf kejepit akan membaik dengan sendirinya tanpa pengobatan dalam 2-3 bulan? Namun, perbaikan tersebut tetap harus dimaksimalkan dengan bantuan ahlinya, ya. Pilihan terapi pada saraf kejepit juga bermacam-macam, dari obat-obatan untuk meredakan nyeri dan gejala, perbaikan postur tubuh dan istirahat yang cukup, hingga operasi. Pada umumnya, operasi merupakan pilihan terakhir apabila semua alternatif pengobatan sebelumnya tidak berhasil, dan jika sudah sampai tahap tersebut, maka tidak kecil kemungkinan bahwa pasien bukan hanya mengalami saraf kejepit, namun juga penyakit lain yang memperparahnya. Teknik operasi pada saraf kejepit disebut dengan endoscopic spine surgery (ESS). Apa itu? Mari simak berikut ini

Endoscopic Spine Surgery (ESS)

Endoscopic spine surgery, merupakan pendekatan terbaru dalam ilmu bedah saraf yang melibatkan operasi invasif minimal. Artinya, pasien tidak akan dioperasi dengan membuka seluruh bagian tulang belakang, melainkan menggunakan peralatan-peralatan kedokteran canggih untuk mencegah efek samping berlebih, menurunkan rasa sakit, dan mempercepat penyembuhan. Berikut adalah keuntungan dari operasi invasif minimal:

  • Hasil yang lebih bagus dari sisi kosmetik, karena hanya melibatkan sayatan kulit kecil–tidak seperti operasi terbuka yang membutuhkan sayatan yang besar
  • Menurunkan risiko kerusakan otot, infeksi, dan nyeri pasca-operasi
  • Menurunkan jumlah darah yang hilang saat operasi
  • Penyembuhan yang lebih cepat dengan waktu rehabilitasi yang lebih singkat
  • Menurunkan ketergantungan pasien dengan obat-obatan anti-nyeri

Prosedur ini dilakukan dengan endoskopi, yaitu tabung fiber yang tipis, dilengkapi dengan cahaya dan lensa, untuk melihat bagian dalam dari tubuh pasien, sehingga meningkatkan akses untuk operasi yang invasif minimal. Prosedur ini dapat dilakukan dengan 2 teknik: (1) melalui antar-foramen tulang belakang (transforaminal) dan (2) melalui lamina tulang belakang (interlaminar).

Endoskopi tulang belakang transforaminal

Prosedur ini merupakan prosedur pertama yang dapat memberikan visual kondisi saraf kejepit pada pasien. Sebelum prosedur ini ada, semua prosedur operasi invasif minimal dilakukan secara “buta”, yaitu dengan perkiraan lokasi terjepitnya saraf. Pada prosedur ini, bantalan yang pecah akan disayat untuk menurunkan tekanan pada saraf yang terjepit. Prosedur ini disebut foraminal karena sayatan dilakukan melalui celah antar-tulang belakang, atau disebut foramen intravertebralis.

Sebelum pembedahan dimulai, pasien akan dibius secara lokal dan dibaringkan pada posisi tengkurap atau miring. Hal ini merupakan salah satu keuntungan operasi invasif minimal, dimana pasien tidak perlu mengalami bius total. Setelah obat bius bekerja, jarum endoskopi akan dimasukkan lewat kulit dengan panduan gambaran radiologi (re: CT-Scan/MRI). Jarum akan dimasukkan hingga foramen tulang belakang, tepatnya di bagian segitiga Kambin, dan terus hingga menembus bantalan yang pecah. Area ini merupakan celah antara bantalan tulang belakang yang membentuk segitiga sama sisi dan merupakan tempat keluarnya akar saraf. Setelah itu, ahli bedah akan menyuntikkan cairan berwarna untuk mengetahui derajat keparahan pecahnya bantalan. Jarum akan diganti dengan kabel sebagai penuntun masuknya endoskop. Endoskop kemudian akan digunakan sebagai alat untuk mengangkat struktur-struktur yang menekan saraf, seperti pelumas bantalan yang pecah, jaringan lemak, ataupun jaringan lainnya. Prosedur ini dilakukan hingga cairan pada tulang belakang dapat bergerak bebas, yang menandakan bahwa dekompresi telah cukup.

Endoskopi tulang belakang interlaminar

Prosedur ini diciptakan karena prosedur transforaminal yang sulit dilakukan pada bagian punggung bawah/pinggang, atau pada sisi anatomis tulang belakang, ruas L5-S1. Sama seperti sebelumnya, lokasi saraf terjepit akan ditentukan sebelumnya dengan gambaran radiologis, dan jarum akan disuntikkan melalui kulit . Namun, bedanya, jarum tidak akan melewati foramen tulang belakang, melainkan melewati garis laminar (bagian tengah dari tonjolan tulang belakang). Ketika jarum mencapai tautan antara tulang belakang dengan lamina, jarum akan dikembangkan agar endoskop dapat dimasukkan. Sama seperti sebelumnya, endoskop digunakan untuk mengangkat struktur-struktur yang menjepit saraf hingga, dan dekompresi dilakukan hingga akar saraf atau cairan tulang belakang dapat bergerak bebas.

Teknik operasi endoskopik transforaminal atau interlaminar akan ditentukan sesuai dengan lokasi saraf yang terjepit dan kondisi pasien. Tentunya, sesuai namanya: “operasi invasif minimal”, teknik operasi ini kini lebih sering digunakan daripada operasi konvensional yang membutuhkan sayatan besar.

Referensi

  1. Choi G, Pophale CS, Patel B, Uniyal P. Endoscopic spine surgery. J Korean Neurosurg Soc. 2017;60(5):485-97 [PMC]
  2. Tjoa K. Cincin pecah yang buat saraf kejepit [Internet]. Jakarta: Bedah-saraf.com; 2019 Sep 18 [cited 2019 Sep 19]. Available from: http://bedah-saraf.com/?p=547

Leave a Reply

Close Menu