MRI dalam Diagnosis Sistem Saraf Tepi

MRI pada sistem saraf tepi jarang digunakan sebagai alat diagnostik kecuali pada lesi massa yang mengompresi saraf. MRI yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit system saraf perifer adalah MRI T1- dan T2-weighted (w). Saraf yang normal akan terlihat isointens terhadap jaringan otot, menunjukkan adanya pola fasikulus, dan sebuah lingkaran kecil lemak. Sedangkan, jaringan saraf yang rusak akan terlihat hiperintens terhadap jaringan sekitar. MRI pada system saraf perifer biasa disebut dengan Magnetic Resonance Neurography (MRN).
Istilah MRN pertama kali dikenalkan pada tahun 1990-an. Prinsip dasar MRN adalah penggunaan suatu pulsasi MR untuk memvisualisasikan dan membedakan saraf perifer dengan jaringan sekitar. Evaluasi standar didasarkan pada analisis gambar morfologis pada sekuens T1-w dan perubahan sinyal pada sekuens fluid sensitive fat-suppresses heavily T2-w.

Sayangnya, di bawah MRI, saraf yang rusak memilki kenampakan yang sama dengan pembuluh darah dimana keduanya memerikan kenampakan hiperintens.Oleh karena itu, sekuen fat-suppresses T1-w biasa ditambahkan untuk membedakan saraf yang rusak dengan pembuluh darah. Namun, di bawah sekuens T2-w saraf yang rusak secara umum tidak dapat mengalami peningkatan dengan penambahan medium kontras gadolinium (Gd)-DTPA dibandingkan dengan pembuluh darah yang relatif terjadi peningkatan.
Demielinasi fokal akan memperlihatkan bagian hiperintens terbatas pada area yang mengalami lesi, tetapi pada lesi aksonal dengan degenerasi Wallerian akan memperlihatkan hiperintens pada segmen saraf mulai dari lesi dan juga bagian yang terletak secara distal terhadap lesi dengan adanya gradien proksimal-distal. Hal ini kemudian dapat diamati bahwa penyembuhan dapat terjadi bermula dari bagian proksimal lesi berlanjut secara distal.

MR NEUROGRAPHY UNTUK ENTRAPMENT NEUROPATHIES
Entrapment neuropathies atau yang biasa disebut dengan sindrom kompresi saraf dapat dilihat dengan MRN. Sebagaimana pada demielinasi, kompresi pada saraf juga akan menimbulkan hiperintensitas pada MRI. Namun, pada kompresi juga akan terlihat pemipihan saraf karena kompresi tersebut. MRI ini akan bermanfaat untuk melihat Panjang saraf yang terkompresi dan mengalami lesi sehingga akan memerika keuntungan pembedahan.

PENILAIAN LESI PLEKSUS
Sebagaimana pada lesi saraf perifer proksimal, lesi pada pleksus juga sulit dinilai dengan uji elektrofisiologis. Oleh karena itu, penggunaan MRN menjadi sangat berguna sebagai alat diagnostik. Untuk pleksus brakialis dan pleksus lumbalis, MRI resolusi tinggi pada minimal dua bidang merupakan sebuah kewajiban.
Menggunakan pencitraan resolusi tinggi dengan surface multi-channel coils pada pleksus brakialis, memungkinkan visualisasi satu fasikulus saraf di dalam suatu trunkus. Dengan fungsi ini, MRI dapat mellihat penyebab lesi saraf baik oleh inflamasi, kompresi, atau lesi traumatik. Pada lesi pleksus traumatic, MRI dapat memberikan informasi tentang fasikulus yang terkena, batas lesi proksimal, dan diskontinuitas distal saraf.

PENGGUNAAN MRI UNTUK MEMBEDAKAN LESI PADA SARAF PERIFER
Indikasi utama penggunaan MRI adalah adanya massa yang teraba pada suatu area. Namun, pada kasus saraf perifer, massa perlu dibedakan apakah karena berasal dari ekstraneuronal, sel Schwann, atau dari saraf itu sendiri. Tumor system saraf perifer yang paling sering adalah schwannoma dan neurofibroma. Tumor akan memperlihatkan isointens-cerah sedang pada T1-w dan cerah pada T2-w. Namun, tumor ini akan terlihat sangat cerah dengan penggunaan kontras gadolinium (lihat Gambar 1). Tumor saraf sebagian besar berbentuk spindle atau ovoid.

Gambar 1: a. tumor pada pencitraan MRI, b. tumor pada pencitraan MRI dengan kontras gadolinium

Sumber: Stoll G, Bendszus, Perez J, Pham M. Magnetic resonance of the peripheral nervous system.J Neurol.2009;256:1043-51.

Referensi:

  1. Stoll G, Bendszus, Perez J, Pham M. Magnetic resonance of the peripheral nervous system.J Neurol.2009;256:1043-51.

Leave a Reply

Close Menu