Meniup Asap Moyamoya, Menormalkan Sirkulasi Otak

Meniup Asap Moyamoya, Menormalkan Sirkulasi Otak

Moyamoya seperti sebuah enigma. Misteri yang terselimuti di balik “gumpalan asap” seperti penampakannya dalam citra radiologi. Namun, bahaya yang dapat ditimbulkan dapat sangat parah: stroke iskemik (kekurangan suplai darah) maupun hemoragik (pendarahan) dan berujung kematian, bahkan pada anak. Secara sederhana, Moyamoya sebenarnya dalahs ebuah mekanisme adaptasi otak yang kekurangan suplai darah akibat penyempitan arteri artotis interna sehingga muncul pembuluh darah baru yang mem-bypass penyempitan. Namun, pembuluh darah ini jauh lebih kecil, lemah, dan tampak seperti gumpalan asap yang rawan untuk ruptur. Sebelum melanjutkan, Anda perlu mengetahui lebih lanjut tentang Moyamoya yang ditemukan oleh Takeuchi dan Shimizu pada 1957 dan dinamai oleh Suzuki dan Takaku pada 1969.

Tata laksana moyamoya harus dilakukan segera setelah diagnosis. Diagnosis dini akan mencegah defisit neurologis yang semakin memburuk. Oleh karena itu, penanganan cepat menjadi kunci. Pembedahan tidak selamanya diperlukan, tetapi menjadi tata laksana definitif mengingat obat-obatan tidak menyelesaikan masalah structural moyamoya. Obat-obatan yang biasa diunakan adalah pengencer darah dan vasodilator. Pengencer darah seperti aspirin digunakan untuk mencegah stroke, vasodilator untuk mencegah iskemia (dikenal transient ischemic attack/TIA). Kadang dokter akan memberikan obat kejang untuk pencegahan. Namun, jika gejala memburuk: penurunan aliran darah dan TIA progresif atau kambuhan, operasi perlu dilakukan.

Tujuan operasi adalah mencegah stroke dengan memastikan kecukupan aliran darah ke otak (merevaskularisasi). Secara umum, terdapat dua cara revaskularisasi: direk dan indirek. Prosedur direk biasanya dilakukan pada pasien dewasa, indirek pada pasien <10 tahun.

Revaskularisasi Direk

Metode direk paling umum adalah menyambungkan (bypass) arteri temporalis superfisial (STA) dengan arteri cerebri media (MCA). Anda akan dibius secara total dan dokter akan melakukan kraniotomi di sisi samping agar MCA terekspos. Metode ini telah digunakan sejak 1970an dan menunjukkan perbaikan suplai darah pada daerah terdampak. Pada beberapa kasus, bypass juga menyambungkan STA dengan arteri cerebri anterior (ACA), arteri cerebri posterior (PCA), dan arteri occipital. Bila STA tidak cukup besar untuk dilakukan bypass dokter akan menggunakan arteri lain yang ditentukan melalui CT angiografi. Teknik ini juga dikenal sebagai bypass EC-IC (ekstrakranial-intrakranial).

Moyamoya STA-MCA Bypass
Prosedur Bypass STA-MCA melalui tahapan insisi kulit (B), kraniotomi dan insisi dura (C), dan penyambungan STA dengan MCA (D-F).;
sumber: Liu JJ, Steinberg GK

Revaskularisasi Indirek

Teknik indirek lebih kompleks dibandingkan reknik direk. Teknik ini akan memberikan perbaikan suplai darah secara progresif – berbeda dengan teknik direk yang hasilnya cukup cepat –. Setidaknya ada 5 teknik indirek:

Encephaloduroarteriosynangiosis (EDAS)

Teknik ini menyambungkan STA langsung ke otak. Dokter akan melubangi kranium di bawah STA kemudian menjahit STA ke duramater di bawahnya sehingga pembentukan pembuluh darah (angiogenesis) membentuk arteri-arteri kecil untuk mengembalikan vaskularisasi.

Enchepalomyosynangiosis (EMS)

Otot temporalis pada sisi terdampak dipotong, kraniotomi dilakukan, dan otot temporalis ditempatkan di permukaan otak sehingga terjadi angiogenesis dari otot tersebut. Teknik EMS juga sering digabungkan dengan EDAS yang sering disebut sebagai EDAMS (enchepaloduroarteriomyosynangiosis).

Omental transposisiton

Prosedur ini melibatkan pembuluh darah di sistem pencernaan, yaitu omentum. Organ ini adalam pembungkus organ pencernaan yang kaya akan pembuluh darah. Pembuluh darah di omentum akan ditanam di permukaan otak dan akan berkembang memberikan vaskularisasi yang mencukupi.

Multiple burr holes

Pembuatan beberapa lubang pada kranium ditujukan agar arteri pada kulit kepala (arteri superfisial/luar) akan tumbuh dan masuk melalui lubang-lubang itu untuk memperbaiki suplai darah.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum oeprasi dilakukan. Risiko iskemia, hiperventilasi (napas berlebihan) dan menangis terutama pada anak yang juga memperburuk risiki iskemia, dapat diatasi dengan pemberian penenang. EEG untuk monitoring kemungkinan iskemia dilakukan sebelum dan sesudah operasi. Infus diberikan pasca operasi selama 48-72 jam dengan aspirin di hari pertama pasca operasi. Lama rawat inap berkisar 3 hari. Pasien akan mengalami keterbatasan ruang gerak dan aktivitas, nyeri di sekitar daerah operasi, dan sakit kepala. Diskusikan dengan dokter Anda lebih lanjut mengenai jadwal konsultasi dan pemantauan kondisi Anda. Pada akhirnya, selama kondisi ditangani secara cepat, sebelum kerusakan permanen dan kejadian stroke, prognosis pasien akan sangat baik dan rendah kemungkinan terserang stroke. Sekali lagi, time is brain.

Referensi:

  1. Ringer A. Moyamoya disease [Internet]. Ohio: Mayfield Clinic; 2018 [cited 2019 Aug 2]. Available from: https://mayfieldclinic.com/pe-moyamoya.htm
  2. Treatment for Moyamoya [Internet]. Standford: Standford School of Medicine; 2019 [cited 2019 Aug 2]. Available from: https://med.stanford.edu/neurosurgery/divisions/moyamoya/treatments.html
  3. Smith ER, Scott RM. Surgical management of Moyamoya syndrome. Skull base. 2005 Feb; 15(1): 15-26.
  4. Acker G, Fekonja L, Vajkoczy P. Surgical management of Moyamoya disease. Stroke. 2018; 49: 476-82.
  5. Moyamoya disease [Internet]. Rochester: Mayoclinic; 2019 Apr 2 [cited 2019 Aug 2]. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/moyamoya-disease/diagnosis-treatment/drc-20355591

Leave a Reply

Close Menu