Meningitis!? Bagaimana Cara Mendeteksinya?
Ilustrasi Meningitis. Gambar diambil dari: https://www.webmd.com/brain/ss/slideshow-visual-guide-meningitis

Meningitis!? Bagaimana Cara Mendeteksinya?

Setiap tahunnya, lebih dari 1 juta orang di dunia ini mengalami meningitis

diagnosis meningitis
Ilustrasi Meningitis. Gambar diambil dari: https://www.webmd.com/brain/

Ingatkah Anda dengan Olga Syahputra? Artis kondang asal Jakarta ini meninggal dunia akibat meningitis pada tahun 2015 silam. Kepergiannya secara tiba-tiba sontak membuat ramai jagad Indonesia, terlebih lagi karena meningitis yang dideritanya hanya berusia beberapa bulan saja.

Meningitis, Apakah Penyakit Mematikan?

Meningitis adalah kondisi inflamasi akut pada selaput meninges–pembungkus otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini bersifat progresif, dengan gejala umum seperti demam, sakit kepala, dan kaku leher. Umumnya, meningitis dapat disebabkan oleh berbagai organisme, mulai dari bakteri, virus, jamur, parasit, hingga yang tidak disebabkan oleh infeksi–seperti kanker dan obat-obatan. Meningitis bakterial yang tidak diobati hampir selalu berujung fatal. Sebaliknya, meningitis viral–yang disebabkan oleh virus–biasanya membaik dengan sendirinya. Risiko kematian akibat meningitis bervariasi tergantung usia, jenis patogen, tingkat keparahan infeksi, dan masih banyak lagi. Meningitis yang paling mematikan adalah meningitis tuberkulosis–yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, dimana 19% penderita meninggal dunia meskipun telah diobati, dan kebanyakan sisanya mengalami gangguan saraf permanen.

Bagaimana cara mengetahui meningitis?

Ketika pasien berobat ke dokter, maka dokter akan mengumpulkan informasi-informasi terkait keluhan dan riwayat penyakit pasien melalui anamnesis–yaitu tanya jawab antara dokter dengan pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengerucutkan diagnosis dari informasi yang dikumpulkan saat anamnesis. Pada meningitis, terdapat 2 tanda yang khas: tanda Kernig dan Brudzinski. Kedua tanda tersebut menilai tekanan pada sumsum tulang belakang dan selaput meninges, yang umumnya meningkat pada pasien dengan meningitis. Pada uji Kernig, pinggang dan lutut pasien akan ditekuk hingga 90 derajat, dan kemudian diluruskan lagi secara perlahan. Apabila positif (re: pasien mengalami meningitis), pasien akan merasakan nyeri pada punggung dan gerakan meluruskan kaki akan terbatas. Sementara itu, pada uji Brudzinski, tempurung kepala pasien akan diangkat pada bagian oksipital (re: belakang) untuk menekuk leher–pasien berada dalam posisi tidur (seperti menunduk saat posisi tidur). Apabila positif, maka tekukan leher akan menyebabkan refleks menekuk lutut dan pinggang secara tidak sadar. Meskipun kedua uji ini dapat digunakan untuk mengerucutkan diagnosis meningitis, diagnosis lain yang lebih pasti juga harus tetap dilakukan untuk memperkuat dugaan meningitis

Diagnosis penunjang yang sering dilakukan adalah uji darah, uji cairan serebrospinal, dan gambaran radiologis. Pengecekan darah akan dilakukan untuk menilai inflamasi (C-reactive protein dan hitung darah lengkap) serta kultur darah–untuk mengetahui penyebab meningitis. Uji cairan serebrospinal merupakan uji yang paling penting, dan menjadi standar baku emas dalam diagnosis meningitis. Cairan serebrospinal diambil dengan memposisikan pasien tidur menyamping, menyuntikkan obat bius lokal, dan menusukkan jarum ke ruang antar-selaput meninges untuk mengambil cairan tersebut. Parameter cairan serebrospinal yang akan diperiksa adalah: tekanan, jumlah protein dalam cairan, hitung sel darah merah dan putih, kultur cairan, dan kadar glukosa cairan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui penyebab meningitis agar pengobatan dapat berlangsung lebih efektif.

Namun, perlu diketahui, pengambilan cairan serebrospinal tidak boleh dilakukan secara manual apabila terdapat massa/tumor di otak atau jika tekanan intrakranial (re: di dalam kepala) meningkat, karena hal tersebut dapat menyebabkan herniasi otak–dimana otak berpindah dari lokasi yang seharusnya. Pada keadaan tersebut, gambaran radiologi dengan CT Scan dan/atau MRI dapat dilakukan untuk menuntun pengambilan cairan serebrospinal. Selain itu, pasien dengan kondisi ini juga perlu disuntik dengan antibiotik untuk mencegah terlambatnya pertolongan jika terjadi sepsis–yaitu menyebarnya mikroorganisme ke seluruh tubuh yang menyebabkan syok.

Referensi

  1. Bahr NC, Boulware DR. Methods of rapid diagnosis for the etiology of meningitis in adults. Biomark Med. 2014;8(9):1085-1103 [PMC]
  2. Tacon CL, Flower O. Diagnosis and management of bacterial meningitis in the paediatric population: a review. Emerg Med Int. 2012;2012:320309 [PMC]

Leave a Reply

Close Menu