Lobotomi, Prosedur Pengobatan dengan Sejarah Kelam
Ilustrasi lobotomi. Gambar diambil dari: https://lithub.com/a-brief-and-awful-history-of-the-lobotomy/

Lobotomi, Prosedur Pengobatan dengan Sejarah Kelam

Selama ribuan tahun, umat manusia membuat lubang pada kepala untuk mengusir roh jahat

Hugh Levison, BBC News

Sejarah Lobotomi

Kisah ini telah bermulai sejak ratusan, bahkan ribuan abad yang lalu. Selama itu pula, orang dengan gangguan jiwa didiskriminasi, dikucilkan, bahkan dibunuh, karena anggapan bahwa ia dirasuki roh jahat, penyihir, ataupun terkutuk.

Pada awal abad ke-20, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa meningkat dengan pesat. Meskipun begitu, alternatif pengobatan yang tersedia masih sangat minim, karena teknik “melubangi kepala” yang dianggap gila dan tidak etis. Barulah pada tahun 1935, seorang ahli saraf asal Portugal, António Egas Moniz, mengembangkan metode operasi yang disebut psychosurgery atau operasi psikis. Beliau menemukan cara untuk mengobati pasien dengan gangguan mental, yaitu dengan merusak serat-serat penghubung saraf pada otak.

Pada waktu itu, prosedur yang masih disebut leukotomi ini, dilakukan dengan membuat sepasang lubang pada tempurung kepala, dan memasukkan alat tajam, leukotom, ke dalam otak, sehingga memutuskan serat-serat penghubung lobus depan otak. Teknik ini, secara mengejutkan, mampu mengobati 20 pasien pertamanya, sehingga diadopsi oleh seorang ahli saraf asal Amerika Serikat, Walter Freeman.

Pada tahun 1936, operasi lobotomi dilakukan pertama kali di Amerika Serikat. Dr. Walter menyetrum pasiennya hingga pingsan, dan menusukkan pemecah es ke bawah kelopak mata pasiennya hingga ujung lancip dari pemecah es tersebut menempel dengan tulang orbit, yang menyangga mata. Setelah itu, ia mengeluarkan palu dan mengetuk pemecah es tersebut hingga berbunyi “Krak..”–tulang tersebut pun retak dan merusak beberapa bagian dari lobus depan otak pasiennya. Alat tersebut kemudian dikeluarkan dan ditusukkan pada mata sebelahnya, dan prosedur yang sama diulang kembali. Aneh, namun pasien tersebut berhasil sembuh dari penyakitnya.

Setelah prosedur tersebut terbukti ampuh, puluhan ribu prosedur lobotomi telah dilakukan sejak 1936, dan diadopsi oleh berbagai institusi kedokteran ternama dunia seperti Harvard, Yale, Columbia, dan University of Pennsylvania. Sang inventor, Egan Moniz, menerima hadiah Nobel bidang Kedokteran pada tahun 1949 atas temuannya–lobotomi.

Lobotomi saat ini

Seiring perkembangan dunia kedokteran, tepatnya pada dekade 1950-60an, terapi obat-obatan berkembang dengan pesat. Sejak itu, masyarakat lebih memilih metode pengobatan yang aman–yaitu invasif minimal, baik melalui obat-obatan, terapi gaya hidup, hingga pembedahan yang invasif minimal. Dr. Walter Freeman, terikat dengan kisah kesuksesannya dalam memperkenalkan lobotomi di Amerika Serikat, enggan mengikuti perkembangan dunia kedokteran dan tetap bersikukuh dengan prosedur lobotomi. Hingga tahun 1967, Helen Mortensen, menjalani prosedur lobotominya yang ketiga, meninggal dunia di atas meja operasi–lisensi kedokteran Dr. Walter Freeman kemudian dicabut dan ia tidak boleh lagi melakukan prosedur lobotomi.

Kini, lobotomi dianggap sebagai barbarisme dalam dunia kedokteran dan sebuah contoh pelanggaran hak-hak pasien dalam ilmu medis.

Referensi

  1. Faria MA Jr.. Violence, mental illness, and the brain–A brief history of psychosurgery: part 1–from trephination to lobotomy. Surg Neurol Int. 2013;4:49 [PMC]
  2. Caruso JP, Sheehan JP. Psychosurgery, ethics, and media: a history of Walter Freeman and the lobotomy. Neurosurg Focus. 2017;43(3):E6 [PubMed]
  3. Robinson RA, Taghva A, Liu CY, Apuzzo ML. Surgery of the mind, mood, and conscious state: an idea in evolution. World Neurosurg. 2013;80(3-4):S2-26 [PubMed]

Leave a Reply

Close Menu