Cedera Kepala: Sang Penyebab Hematoma, Si Merah Perusak Otak

Cedera Kepala: Sang Penyebab Hematoma, Si Merah Perusak Otak

“Setiap tahun, sekitar 42 juta jiwa mengalami trauma otak yang dapat menyebabkan gangguan fungsi otak dan disabilitas permanen”

Gardner RC, Yaffe K. Mol Cell Neurosci
Traumatic Brain Injury
Traumatic Brain Injury. Diproduksi dari: https://army.mil/

Apa Itu Cedera Kepala?

Cedera kepala (Inggris: Traumatic Brain Injury) merupakan keadaan rusaknya otak karena gaya fisik dari luar seperti kecelakaan lalu lintas, luka tembak pada kepala, jatuh dari ketinggian, dan lain-lain. Keadaan ini tidak disebabkan oleh kerusakan dari dalam tubuh seperti kanker otak dan stroke. Trauma ini umumnya disertai dengan gejala pingsan selama kurang lebih 30 menit, meskipun terkadang gejala ini tidak tampak.

Menurut TBI Model System, cedera kepala ditandai dengan hilangnya kesadaran, hilangnya ingatan akan bagaimana terjadinya trauma tersebut, serta tempurung kepala yang retak (fraktur), kejang, atau kelainan pada pemeriksaan radiologi otak. Cedera atau trauma kepala dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti jatuh dari ketinggian (35%), kecelakaan lalu lintas (17%), dan trauma pukulan oleh benda tumpul/tajam (16%). Namun, pada cedera yang lebih parah, berturut-turut kecelakaan lalu lintas, luka tembak, kejatuhan, dan kekerasan merupakan penyebab tersering penyakit ini.

Bagaimana cedera dapat terjadi?

Ketika terjadi benturan ke kepala, otak di dalamnya akan bergerak dengan hebat sehingga menyebabkan kerusakan otak. Umumnya, hal ini dapat dicegah oleh lapisan pelindung otak (meninges) dan cairan serebrospinal. Cairan inilah yang berperan sebagai peredam benturan dan lapisan pelindung otak mencegah pergerakan otak yang lebih hebat.

mekanisme-tbi

Gambar 2. Mekanisme terjadinya kerusakan otak
Diproduksi dari: https://mayfieldclinic.com/pe-tbi.htm

Berdasarkan kedalamannya, cedera kepala dapat dibagi menjadi luka terbuka dan tertutup. Luka tertutup menandakan bahwa tempurung otak dan isinya belum ter-ekspos (penetrasi), sedangkan luka terbuka menandakan bahwa pelindung otak tersebut sudah terpenetrasi dan terpapar ke udara. Contoh luka terbuka otak adalah luka tembak, sementara benturan merupakan contoh luka tertutup. Selain itu, cedera kepala juga dapat dikelompokkan berdasarkan penyebabnya menjadi primer dan sekunder. Cedera primer terjadi bersamaan dengan trauma dan meliputi fraktur tempurung kepala, perdarahan otak, serta kerusakan otak secara menyeluruh dan kehilangan kesadaran. Di lain pihak, cedera sekunder terjadi sesaat setelah trauma awal, dan umumnya terjadi selang beberapa hari. Cedera sekunder dapat disebabkan kurangnya oksigen pada otak karena pembengkakan otak.

Bagaimana cara mengetahui adanya kerusakan otak?

Kerusakan otak dapat dinilai menggunakan durasi pingsan, kedalaman koma, tingkat amnesia, dan pemeriksaan radiologi otak. Kedalaman koma dapat diukur menggunakan skala Glasgow Coma Scale (GCS) yang meliputi kemampuan membuka mata, menggerakan tungkai, dan respon bicara. Pasien dengan koma yang dalam memiliki nilai 3, sementara angka 15 menunjukkan orang yang sadar sepenuhnya.

Selain itu, pemeriksaan radiologi menggunakan alat-alat modalitas untuk melihat adanya kelainan pada otak. Beberapa pemeriksaan radiologi yang umum digunakan adalah CT scan (Cranial tomography scan) dan MRI (Magnetic Resonance Imaging). CT scan dilakukan menggunakan sinar X 360 derajat sehingga dapat menilai adanya gumpalan darah, luka, dan bengkak pada otak. Pemeriksaan ini sangat cepat sehingga cocok untuk digunakan pada keadaan gawat darurat. Di lain pihak, MRI tidak menggunakan radiasi sinar X, melainkan menggunakan gaya magnet sehingga efek sampingnya lebih rendah. MRI memiliki sifat lebih “teliti” dibandingkan CT scan sehingga mampu mendeteksi kelainan yang lebih spesifik.

Hematoma Epidural (EDH) vs. Hematoma Subdural (SDH)

Ketika terjadi kerusakan otak, pembuluh darah di sekitarnya dapat pecah karena tekanan intrakranial akibat bengkaknya otak maupun benturan langsung. Ketika pecah, darah akan mengalir keluar pembuluh darah–fenomena yang dinamakan perdarahan/hematoma otak.

Lapisan pelindung otak terdiri dari tiga lapis: duramater, arachnomater, dan piamater; berturut-turut dari luar ke dalam. Jika perdarahan terjadi pada ruang antara tempurung kepala dengan duramater, maka perdarahan tersebut dinamakan hematoma epidural. Jika perdarahan terdapat di ruang antara duramater dengan arachnomater, maka dinamakan hematoma subdural, sedangkan perdarahan di bawah arachnomater disebut hematoma subarachnoid.

Secara klinis, kedua perdarahan tersebut sulit dibedakan. Hematoma epidural memiliki interval waktu dimana pasien sadar/normal setelah kejadian (lucid interval), dan pingsan baru dirasakan beberapa jam setelahnya. Di lain pihak, pasien dengan hematoma subdural seringkali kehilangan kesadaran secara gradual tanpa perbaikan. Namun, untuk memastikan diagnosis, kedua penyakit tersebut dapat diketahui melalui pemeriksaan radiologi. Standar baku emas dalam pemeriksaan ini adalah CT scan, karena sifatnya yang cepat dan praktis sehingga cocok digunakan untuk kasus ini yang harus ditangani dalam hitungan menit hingga jam.

EDH-SDH
Tampilan hematoma epidural, subdural, dan subarachnoid pada pemeriksaan CT Scan
Diproduksi dari:
https://slideplayer.com/slide/3280362/

Pada pemeriksaan CT scan, hematoma epidural menunjukkan adanya massa berbentuk “lemon” (bikonveks, berbentuk lensa), sedangkan hematoma subdural menunjukkan adanya massa berbentuk bulan sabit (konkaf, berbentuk pisang) dan umumnya melibatkan area yang lebih luas daripada hematoma epidural.

Kesimpulannya, setiap trauma yang berpotensi menyebabkan cedera kepala harus segera diperiksa lebih lanjut untuk menilai apakah ada kerusakan otak. Jika pemeriksaan secara klinis dan radiologis menunjukkan adanya kerusakan otak, maka penanganan cepat harus segera dilakukan.

  1. Field AS. Introduction to neuroimaging [unpublished lecture notes]. Madison: University of Wisconsin-Madison; 2007 Dec 3
  2. Horne D, Kachmann D. Traumatic brain injury [Internet]. Ohio: Mayfield Brain & Spine; 2018 Jul [cited 2019 May 9]. Available from:
    https://mayfieldclinic.com/pe-tbi.htm
  3. University of Washington. Understanding TBI. Washington: Model Systems Knowledge Translation Center; 2010
  4. Gardner RC, Yaffe K. Epidemiology of mild traumatic brain injury and neurodegenerative disease. Mol Cell Neurosci. 2015 May;66(0):75-80

Leave a Reply

Close Menu